MalangPost - Untuk Mendapat Lisensi, Ngaji Dulu pada Kiai yang Dapat Ijazah

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :


Untuk Mendapat Lisensi, Ngaji Dulu pada Kiai yang Dapat Ijazah

Jumat, 15 Mei 2020, Dibaca : 5049 Kali

Al-Hikam salah satu kitab tasawuf yang sangat istimewa bagi kalangan ulama ?Ahlussunah Waljamaah. Untuk mendapatkan lisensi (ijazah), harus ngaji terlebih dahulu ?kepada Kiai yang pernah mendapat ijazah dari gurunya. Perangai orang-orang yang sudah ?ngaji kitab Al-Hikam, biasanya sudah mampu mengendalikan dari amarah dan duniawi. ?

Penulis pernah ikut ngaji kitab Al-Hikam di Pesantren Kacuk, waktu itu di asuh oleh ?KH Suyuthi Dahlan. Kemudian pada tahun 2019 ikut ngaji kilatan bersama ratusan santri ?alumni Sarang di pesantren Nurul Huda Mergosono dengan tujuan mendapat sanad dan ijazah ??(lisensi) langsung dari Gus Wafi Maimoen Zubair.?

Ngaji dimulai usai salat Duhur, dan selesai menjelasang salat Ashar. Karena ?mayoritas yang ikut ngaji adalah Kiai dan Asatid. Setelah rampung pengajian, Gus Wafi ?Maimoen Zubair menyampaikan kepada hadirian “Al-Hikam salah satu kitab yang sangat ?sulit, bacalah berulang-ulang, maka nanti akan faham sendiri”. ?

KH Aziz Munif Gedangan Sidoarjo juga mengatakan kepada saya “Saya ini ngaji ??(membaca kitab Al-Hikam) saat nyantri di Kiai Misbah hingga khatam tiga kali. Namun tidak ?faham sama sekali apa yang saya baca.  Ketika sudah menjadi Kiai, mengajar santri-santri, ?saya membaca kitab Al-Hikam dengan mudah dan famam dengan sendirinya”.? ? Itulah salah ?satu bukti ilmu yang manfaat, karen khidmah kepada guru-guru.?

Cukup banyak ulama-ulama Nusantara yang menterjemahkan kitab Al-Hikam dengan ?berbagai bahasa, mulai bahasa Jawa, Melayu, Sunda. Salah satu penulis kitab Al-Hikam yang ?pernah ditulis ulama Makkah dengan bahasa Jawa “Al-Lughoh Al-Jawiyah” yang di tulis oleh ?Syekh Burhanuddin Ulakan Padang (w.1704 m) dengan judul “Tadkirah Al-Gabi fi Syarh Al-?Hikam Al-Atoillah”.?

Di dalam kitab “Kifayatu Al-Mustafid lima Ala Mina Al-Asanid “Syekh Muhammad ?Mahfudz At-Tirmisi berkata “adapun kitab Al-Hikam saya dari Syaikina Sayyid Abu Bakar ?Shata, dari Sayyid Zaini Dahlan, Syekh Usman bin Hasan Al-Dimyati, dari persarahnya ?Syekh Abdullah Al-Syarqowi, dari Ustad Muhammad ibn Salim  Al-Hifni, Syekh Iid Al-?Namrasi, Syekh Abdullah bin Salim Al-Bashori, dari Syekh Muhammad Ala’ Al-Babili, Syekh ?Naja Salim ibn Muhammad Al-Sanhury, Syekh Najm Muhammad Ahmad Al-Ghitih, Syekhul ?Islam Zakaria Al-Ansori, Syekh Al-Izz Abdurahim ibn Al-Furat, dari Al-Taj Abdul Wahab bin ?Ali ibn Abdul Kaff, dari Ayahny Al-Taqyu Ali ib Abdul Kafi Al-Subki, dari pengarang Al-Imam ?Tajuddin Ahmad ibn Muhammad Abdul Karim bin Atoillah Assakandari (w.709).?

Penulis menduga bahwa Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai santri dekat Mbah ?Mahfzud Al-Turmusi, sudah pasti sanad Al-Hikam merujuak kepadanya, dan mendapatkan ?ijazah (lisensi) dari beliau. Kemudian mengajarkan kepada santri-santrinya. Ulama-ulama NU, ?di seluru  Nusantara hampir kesemuanya mengajarkan Kitab Al-Hikam dan sanadnya merujuk ?kepada Syekh Muhammad Mahfuzd Al-Turmusi Al-Makki.?

Saat ini, sosok ulama yang mengajar kitab Al-Hikam KH Imran Jamil, KH Jamal. ?Keduanya sosok yang begitu mudah memberikan pemahaman kepada masyarakat awam ?kadangun  dan untain-untaikan Ibn Atoillah Al-Iskandari.?

Di kota Malang, hampir semua pesantren dan Kiai Aswaja mengajarkan kitab “Kitab ?Al-Hikam Ibnu Athoillah As-Sakandari. ? Pesantren Nurul Ulum Kacuk KH Suyuthi Dahlan, ?Pesantren Al-Hikam Cenger Ayam, KH Ahmad Hasyim Muzadi, Pesantren Nurul Huda ?Mergosono KH Ahmad Shamton, Pesantren Miftahul Huda Gading, KH Ahmad Arif bin ?Yahya, Pesantren Sabilurrosyad Gasek, KH Marzuki Mustamar. Bahkan, KH Muhammad ?Tholhah Hasan Almarhum, mengajarkan kitab Al-Hikam kepada para dosen-dosen di ?UNISMA Malang.?

Hampir semua pengajian kitab “Kitab Al-Hikam Ibnu Athoillah As-Isakandari” yang di ?asuh poro Kyai dan Habaib di Kota Malang, selalu dihadiri ratusan, bahkan ribuan orang. Ini ?menjadi isarah bahwa kitab Al-Hikam itu bukan kitab semabarangan, tetapi sebuah kitab sakral. ?tipis, tetap kandungannya mendalam dan tidak bisa diselami, kecuali orang-orang bening hati ?dan bersih pikirannya.?

Salah satu ungkapan paling indah dalam masalah doa, Ibn Atolillah ra berkata ??"Janganlah karena keterlambatan datangnya pemberian dari-Nya kepadamu, sedangkan ?engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, itu menyebabkan engkau berputus asa; ?sebab Dia (Allah Swt) telah menjamin bagimu suatu ijabah (pengabulan doa) dalam bentuk ?sesuatu yang Dia pilihkan bagimu, bukan dalam bentuk sesuatu yang engkau pilih untuk ?dirimu; dan (pengabulan doa) itu terjadi pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu ?yang engkau kehendaki.”?

Ketika mendengarkan untaikan kata indah sarat dengan makna dari Ibn Atoillah, orang ?akan mudah menyadari bahwa Allah SWT sudah mengerti kapan waktu yang tepat dikabulkan ?sebuah doa. Masih masalah doa, "ketika sebuah permohonan dikabulkan, sesungguhnya Allah ?SWT ingin menunjukkan sifat pemurah kepada hamba-Nya. Namun ketika Allah SWT tidak ?mengabulkan sebuah doa, sesungguhnya Allah SWT maha kuasa atas segalanya, sekaligus ?menjadi bukti bahwa tidak satupun dari hamba-Nya mampu intervensi-Nya"? (*)

Oleh : Dr. Abdul Adzim Irsad

Ketua Lazis Masjid Sabilillah Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Abdul Adzim