MalangPost - Strategi Branding Wisata di Era New Normal

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Strategi Branding Wisata di Era New Normal

Senin, 06 Jul 2020, Dibaca : 4587 Kali

BRANDING wisata, bukan hanya dilakukan destinasi wisata saja, tapi juga bisa dilakukan branding kota. Hal ini dilakukan untuk memastikan, kalau kesehatan wisatawan terjamin di era New Normal.

Karena di masa pandemi covid-19, wisata menjadi sektor yang paling terdampak. Dicontohkan, untuk hotel saja, okupansinya tinggal menyisakan 5-10 persen. Padahal sebelumnya bisa mencapai 50-60 persen.  

‘’Jadi yang perlu didahulukan yang mana? Kesehatan atau ekonomi? Saya pikir, kesehatan tetap harus didahulukan. Tapi orang bisa sehat, kalau ekonominya juga jalan. Harus disinergikan antara ekonomi dan kesehatan. Kita juga harus peka, negara belum bisa back up semuanya. Kata kuncinya, kita harus beradaptasi dengan covid-19,’’ ujar, Aang Afandi, peneliti ekonomi pariwisata Politeknik Negeri Malang, di Idjen Talk City Guide 911 FM, akhir pekan kemarin.

   Baca juga : Korupsi, Penodaan Serius Negara Hukum

Untuk membuka sektor wisata itu, lanjut Aang, tetap harus dilakukan dengan standart protokol kesehatan yang ketat. Tentunya harus didahului persiapan, untuk memastikan segala sesuatunya siap menerima wisatawan.

Dalam kondisi wait and see tersebut, ujar dosen akutansi ini, tempat wisata maupun kota itu sendiri, bisa melakukan rebranding. Misal untuk Kota Batu, bisa menyebut sebagai kota wisata yang menawarkan sesuatu, yang tidak beresiko. Karena semuanya dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat.

Terkait rebrading itu sendiri, Jatim Park Group mensiasati dengan merubah sasaran. Biasanya pengunjung banyak rombongan week day anak-anak sekolah, diubah menjadi work in guess atau family. Mereka adalah generasi Z, yang melek teknologi dan masih punya keberanian untuk klayapan. Pemasarannya juga memaksimalkan sistem online.

Sebelumnya, SDM yang nantinya melayani wisatawan, harus diedukasi bagaimana penularan covid-19, termasuk menanggulanginya. Tidak kalah penting adalah komitmen manajemen terhadap karyawan yang bekerja, harus ada pengawasan yang ekstra ketat.

‘’Awal bulan Juni, regulasi dari pemerintah pusat dan daerah sudah diberlakukan, kaitannya dengan rencana operasional tempat wisata. Itulah yang membuat Jatim Park Group, mempersiapkan diri untuk operasional lagi,’’ sebut Marketing & PR Manager Jatim Park Group, Titik Ariyanto.

 

Untuk sementara, kata Titik, Jatim Park 2 dan Eco Green Park saja yang dibuka setiap hari. Meski untuk pengunjung masih belum normal seperti dulu. Target yang harusnya sehari bisa dikunjungi 800 orang, belum bisa dicapai.

Padahal untuk menggaji karyawan, sangat tergantung dari jumlah pengunjung yang datang. Belum lagi, Titik juga menyebut, beaya operasional yang tinggi di Jatim Park 2, membuat tempat wisata itu harus dibuka. 

‘’Tapi meski kami buka awal, kami tetap menerapkan protokol kesehatan. Karena itu yang utama. Termasuk adanya social distancing. Bedanya social distancing yang kami lakukan per keluarga atau per kelompok,’’ kata Titik.

 

Sementara Walikota Batu, Dewanti Rumpoko menyatakan, dibukanya destinasi wisata di Kota Batu, bertujuan untuk menggerakkan sektor ekonomi. Sekalipun  branding masih sulit dilakukan, saat angka kasus covid 19 naik.

Karenanya, SOP protokol kesehatan harus dilakukan, ketika destinasi wisata dibuka. Bahkan Dewanti sampai harus memaksa tempat wisata buka, agar roda perekonomian bisa kembali berjalan.

Sebelumnya, angka kemiskinan dan pengangguran Kota Batu paling kecil di Jatim. Tapi imbas penutupan usaha wisata selama empat bulan, membuat pendapatan dari sektor wisata, sudah tidak ada. Masyarakat pun terdampak.

 

Wakil Ketua DPRD Kota Batu, Nurochman menyebut, dalam masa new normal ini, harus direspon positif semua pihak. Terutama pemerintah daerah. Mereka harus bisa memberikan support kepada penyelenggara wisata di Kota Batu.

‘’Karena sudah menjadi city branding Kota Batu, jadi kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah, harus bersentuhan langsung dengan proses pemulihan wisata di Kota Batu. Termasuk refocusing atau realokasi anggaran senilai Rp 102 miliar bisa dipakai untuk memfasilitasi kesehatan,’’ kata dia.

 

Memang untuk tempat wisata, ujar politikus PKB ini, terkait kesehatan bisa dilakukan penyelenggara wisata. Hanya di luar itu, misalnya di tempat kuliner atau tempat publik, harus lebih maksimal digarap oleh pemerintah daerah. Dengan rujukan protokol kesehatan.

‘’Sampai saat ini belum maksimal. Masih banyak masyarakat Kota Batu, yang belum mempedomani protokol kesehatan. Misal belum pakai masker, aktivitas di pasar masih banyak yang belum memenuhi protokol kesehatan. Harusnya itu bisa dimaksimalkan dengan dana yang ada,’’ tandas Nurochman. (els/wul/ana)

Editor : Redaksi
Penulis : Malang Post