MalangPost - Sanad Thoriqoh Gading Pesantren sampai pada Rasulullah

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :


Sanad Thoriqoh Gading Pesantren sampai pada Rasulullah

Selasa, 12 Mei 2020, Dibaca : 5403 Kali

Kiai ku bernama KH Drs. Abu Hanifah Al-Dimyati Jember. Ketika beliau sedang ?study di Fakultas Adab jurusan Bahasa Arab di Universitas Negeri Malang, beliau juga ?nyantri di pesantren Miftahul Huda Gading. Salah satu pesantren tertua di Malang, bahkan ?Jawa Timur, termasuk di Indonesia.?


Kesan mendalam yang saya peroleh dari Kiai ku “ilmunya mendalam, santun, ramah, ?dan tidak pernah marah”. Selama ngaji dalam bimbinganya di Pesantren Al-Hanif Jember ?Ambulu, beliau tidak pernah marah, walaupun santri-santrinya bandel dan nakal-nakal. ?Ternyata, guru-guru beliau di pesantren Miftahul Huda Gading, adalah ulama-ulama hebat ?mursid Thoriqoh Naqsabandiyah Qodiryah. Apalagi, ketika saya berjumpa langsung dengan ??“KH Ahmad Arif ibn Yahya” yang begitu tawadu’, ramah, santun dan benar-benar mendalam ?spirtualnya.?


KH Drs. Abu Hanifah pernah bercerita. Suatu saat, KH Ahmad Arif bin Yahya hadis ?dalam sebuah majlis di Masjid Embong Arab. Tiba-tiba, seorang tinggi besar yang guanteng ?datang dan mendekatinya, menyapa dan memeluk dan menyalaminya. Padahal, KH Ahmad ?Arif bin Yahya waktu itu masih muda. Ternyata, sosok itu adalah Sayyid Muhammad Alwi ?Al-Maliki Makkah. Rupanya, sinyal Sayyid Muhammad ketemu dengan sinyal KH Arif ibn ?Yahya Mursid Thariqoh Qodiriyah Al-Naqsabandiyah.?


Konon, setiap santri Gading, jika menghadapi sebuah masalah yang ribet, rumit, KH ?Ahmad Arif selalu datang dalam setiap mimpinya. Suatu saat saya mengantarkan beliau ke ?kediaman KH Ahmad Arif bin Yahya Gading. ?
Pada tahun 2018, saya mengantarkan Kiaiku ke kediaman KH Ahmad Arif ibn ?Yahya Gading nyantri di Pondok Pesantren. Setelah keluar dari pondok pesantren, Kiaiku ?bercerita “saya, kalau ada permasalahan yang agak ribut dan ruwet, selalu di datangi Kyai ?Man (KH Ahmad Arif ibn Yahya). Rupanya, hampir semua santri-santri Gading Pesantren, jika ?menghadapi kondisi yang kurang nyaman, sang Guru (mursid) selalu hadir dalam mimpinya.?


Begitulah kedalaman spiritual seorang sufi sejati pengikut Thariqoh Qodiriyah ?Naqsabandiyah. Ahlak itu di atas segala-sagalanya. Pesantren ini mengajarkan nilai-nilai luhur ?budi pekerti yang telah diajarkan Rasulullah SAW kepada sahabat-sahabatnya.?
Menurut para ulama, salah satu syarat mutlaq mendapat ilmu  berkah nan manfaat ?adalah “khidmatul Al-Syuyuh” melayani guru. Dalam bahasa “Ta’lim Al-Muatallim” syaratnya ?mendapat ilmu yang bermanfaat adalah “irsadu ustad” mendapat bimbingan seorang guru. ?KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul Alim wa Al-Mutaalim mengabarkan ??“seorang santri tidak boleh bertentangan dengan gurunya”.?


Masih menurut Mbah Hasyim Asy’ari dalam kitabnya, Rasulullah SAW berkata “tiga ?kelompok yang akan memberikan safaat, para nabi, ulama dan suhada”. Santri-santri Gading ?telah melaksanakan titah gurunya, kelak mereka akan mendapatkan syafaat dari guru-gurunya ?yang telah mengajarkan ilmu meniti jalan menuju Allah SWT.?


Pesantren Miftahul Huda Gading Malang, bukan mengajarkan materi-materi fikih ?tawasuf, seperti; kitab Al-Hikam, Ihya’ Ulumuddin, Al-Bidayah, Nasoihul Ibad, Nasoidul Al-?Diniyah,  Risalah Al-Muawanah. Kemudian para Kyai dan pengajarnya di pondok ini adalah ?sosok intelektaul sufi yang mengepankan ahlak, sehingga mampu membangun sebuah karakter ?sufi modern.?


Tidaklah heran jika lulusan-lusan pesantren benar-benar sopan dalam bertutur, bersikap ?serta berprilaku, dan berbusana. Beberapa sosok lulusan pesantren ini yang saya kenal adalah, ?Dr. Ahmad Qusyairi, dr. Nurkholis Qomari, Gus Mahasin wakil Bupati beliau adalah kakak ?Kandung Gus Baha Narukan, termasuk KH Abu Hanifah Al-Dimyati. Ratusan lulusan ?dengan beragam profesi, namun tetap berpegang teguh pada budi pekerti seorang sufi sejati.?


Jika dirunut dengan teliti, sanad Thoriqoh Qodiriyah Naqsanadiyah di ?Miftahul Huda Gading, yang saat ini di asuh langsung oleh KH Ahmad Arif bin Yahya, ternyata ?sanadnya sampai kepada baginda Rasulullah SAW. Berdasarkan penuturan keluarga besar ?Gading Pesantren, Dr. Ahmad Qusyairi, M.Pd, sebagai berikut;?
KH Ahmad Arif, KH Yahya, KH Zainul Makarim, KH Ibrahim, KH Abdul Karim ??(Makkah), Syekh Khatib Sambas (Makkah), Syekh Samsuddin, Syekh Muhammad Murad, ?Syekh Abdul Fattah, Syekh Usman, Syekh Abdurahmi, Syekh Abu Bakar, Syekh Yahya, ?Syekh, Hisamuddin,  Waliyuddin, Nurudddin, Sarufuddin,  Samsuddin....Syekh Abdul ?Qodir Al-Jaelani..hingga Rasulullah SAW.?


Di dalam mendidik ahlak dan ruhani santri, para Masyayikh di Miftahul Huda ?mengajarkan para santri Thoriqoh Qodiriyah pada akhir-akhir sebelum lulus. Kemudian ?setelah mampu, mereka diperbolehkan melanjutkan Thariqoh Nagsabandiyah. Semua yang ?diamalkan kaum santri selalu akan mendapat pantau secara khusus dari guru-gurunya “Irsadu ?Ustadi” petunjuk seorang guru.? (*)

Oleh : Dr. Abdul Adzim Irsad
Ketua Lazis Masjid Sabilillah Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Abdul Adzim