MalangPost - Protokol Kesehatan Lebih Ketat

Kamis, 16 Juli 2020

  Mengikuti :

Protokol Kesehatan Lebih Ketat

Selasa, 02 Jun 2020, Dibaca : 2964 Kali

MALANG - Wacana kembali bergulirnya sepakbola Indonesia memberi harapan bagi para pelaku sepakbola nusantara. Meski demikian, banyak kekhawatiran bahwa bergulirnya sepakbola bakal meningkatkan potensi penularan pemain. Hal ini tidak bisa dihindari dalam olahraga dengan kontak fisik seperti sepakbola. Sehingga, asisten pelatih Arema, Charis Yulianto menyebut bahwa harus ada protokol yang sangat ketat dan terkontrol dengan baik. Andai sepakbola dijalankan di masa New Normal saat ini, protokol kesehatan yang diterapkan, akan sangat berbeda dengan protokol sebelum ada Coronavirus.

“Sepakbola masih mungkin dijalankan, tapi harus dikontrol dengan ketat. Seluruh pemain dan tim pelatih, semua yang kontak di lapangan, kitman, fisioterapis, pelatih, tetap dikontrol protokol,” ujar Charis kepada Malang Post, Selasa (2/6).

 

Dia mengatakan, sepakbola adalah  satu dari sekian olahraga kolektif dengan banyak kontak fisik. Sehingga, persiapan untuk menjalankan pertandingan sepakbola di masa New Normal, jelas berbeda dan lebih ketat. Andai sepakbola Indonesia harus berjalan, Charis menganggap screening atau pemantauan kondisi pemain jauh sebelum laga digelar, wajib dilakukan secara ketat dan detail.

“Bisa saja, H-1 atau H-2 seluruh pemain yang akan bertanding, harus menjalani rapid test, sehingga bisa meminimalisir potensi penyebaran virus, serta memberi tim pelatih gambaran kondisi pemain dan melakukan langkah antisipasi dalam taktik,” tambah mantan kapten timnas Indonesia ini.

 

Namun, faktor lainnya yang harus diperhitungkan lebih ketat, malah bukan potensi penyebaran virus antar pemain. Kontak fisik akan lebih banyak terjadi di kerumunan suporter yang menonton pertandingan sepakbola. Charis menerangkan, risiko suporter terpapar lebih besar karena berkerumun di tribun.

“Kalau laga sepakbola digelar lagi dan tribun boleh diisi penonton, risiko penularan malah lebih besar di suporter, pasti akan lebih ribet,” tambahnya. Sehingga, Charis menyebut edukasi gaya hidup sehat dan protokol kesehatan untuk suporter sangat penting bila stakeholder bola ingin kompetisi digelar lagi dengan tribun berpenonton.(fin/jon)

Editor : Jon Soeparijono
Penulis : Fino Yudistira