MalangPost - Pengajian Tafsir Al-Ibriz di Malang

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :


Pengajian Tafsir Al-Ibriz di Malang

Kamis, 14 Mei 2020, Dibaca : 4452 Kali

Salah satu tafsir berbasa Jawa yang membumi adalah adalah “Kitab Tafsir Al-Ibriz karya KH ?Bisri Mustofa Rembang”. Kitab Tafsir Al-Ibriz menggunakan huruf Arab Pegon. Satu satunya ?bahasa Arab yang ditulis dengan miring. Beberapa ulama menganalisis, bahwa Tafsir Alquran ?Al-Ibriz ?di artikan "Emas Murni" dengan harapan orang yang ngaji kitab Al-Ibris benar-benar ?murni dan bersih hatinya karena Allah SWT. ?
KH Bisri Mustofa pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Tremas, asuhan KH. ?Dimyati yang merupakan keluarga besar dari Syekh Mahhfuzd Al-Turmusi Makkah. Ketika ?KH Bisri Mustofa ?bermukim di Makkah, beliau ngaji kepada ulama-ulama Masjidilharam, ?seperti; Syaikh Umar Hamdan al-Maghriby seorang pakar hadis, Syekh Hassan Massath? ngaji ?kitab Manhaj Dzawin Nadhar. Beliau ngaji kitab Tafsir Jalalain pada Sayid Alwi ibn Abbas ?Al-Maliki.?
KH Bisri Mustafa menulis tafsir Ibriz selama 4 tahun (1957 M-1960 M) di Rembang. ?Sebagaimana tradisi ulama Ahlussunah Waljaah, setelah setelag rampung biasanya datang ?kepada guru atau orang yang lebih senior agar mendapat pengakuan seperti Imam Malik ?menulis kitab Al-Muwatto’. Setelah KH Bisri Mustafa ?merampungkan karya tafsir yang ?fenomel itu, beliau memberikan kepada KH. Arwani Amin, KH. Abu Amar, KH. Hisyam, dan ?KH. Sya’roni Ahmadi untuk di tashih.?
KH Bisri Mustafa benar-benar menguasai tafsir, beliau dengan baik, sehingga bisa ?menerjemahkan dengan gamblang kandungan Alquran dengan bahasa Jawa Pegon. Beliau  ?menjelaskan dalam kitabnya bahwa dirinya tidak mentafsirkan dari pikirannya sendiri. Karena ?Rasulullah SAW pernah berkata “Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya ??(semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi)??.
Dalam hal ?ini, ulama Ahlussunah Waljamaah sangat hati-hati, karena Alquran itu kalamullah, tidak ?seorang-pun yang mampu menafsirkan, kecuali bersandar pada guru-gurunya, sehingga sanad ?keilmuan tafsir sampai pada Rasulullah SAW.?
KH Bisri Mustafa membeberkan rujukan-rujukan dalam penulisan tafsir al-Ibriz, ?seperti; Tafsir Jalalain, Tafsir Baidhowi, Tafsir Khozin. Dalam muqoddimahnya, beliau juga ?menyampaikan “Dene bahan-bahanipun terjemah tafsir ingkang kawulo suguhaken puniko, ?amboten sanes inggih namung metik saking tafsir-tafsir mu’tabarah kados Tafsir Jalalain, ?Tafsir Baidhowi, Tafsir Khozin, lan sakpanunggalinipun”.?
Guru-guru beliau, seperti Syekh Hasan Massat, Syekh Hamdan, Sayyid Alawi ?merupakan ulama besar di Masjidilharam. Sanad mereka juga merujuk kepada Sayyid Abbas, ?Syekh Mahfuzd Al-Tirmisi, Sayyid Abu Bakar Shata, Sayyid Zainid Dahlan yang menjadi ?rujukan ulama di dunia di Makkah Al-Mukkarramah. Dengan kata, Tafsir Al-Ibris Al-Mu’tabr ?karena sanad guru dan rujukannya bisa dipertanggung jawabkan.?
Sesuai dengan namanya “Al-Ibris” artinya emas murni. Orang yang ingin belajar tafsir ini ?harus benar-benar menta niatnya dengan baik dan benar, seperti emas. Sosok Kiai dan ulama ?yang mengajar Kitab Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Mustofa di Malang tidaklah banyak. ?Satu-satunya Kyai yang masih istikomah mengajarkan Tafsir Ibris secara rutin adalah “Kyai ?Munir Malang Lok Padas”. Beliau mengajar Tafsir ini sudah cukup lama, sekitar 35 tahun.?
Jika dirunut, sanad Tafsir Al-Ibris itu nyambung (muttasil) kepada KH. Ahmad Mustofa Bisri ??(Gus Mus), naik ke Ayahandnya KH Mustofa Bisri, Sayyid Alwi, Sayyid Abbas Al-Maliki, ?Sayyid Abu Bakar Shata, Sayyid Zaini Dahlan. Dengan demikian, bisa jadi, KH Munir yang ?sudah memasuki usia 75 tahun telah mendapatkan ijazah (lisensi) dari penulisnya KH Bisri ?Mustofa untuk mengajarkankan Tafsir Ibris kepada santri dan masyarakat.?
Kiai Munir merupakan sosok yang sangat santun, lembut, selalu melihat sisi positif ?pada setiap kejadian. Satu hal yang tidak ditemukan pada sosok yang lain, beliau menjaga ??(puasa), dengan makna yang lebih luasa menjaga perkataan yang tidak baik dan tidak ?menyenakan kepada siapa-pun. Sangat pantas, jika beliau mendapat ijazah (lisensi) ?mengajakan Tafsir Al-Ibris kepada santri dan masyarakat. (*)?

Oleh : Dr. Abdul Adzim Irsad
Ketua Lazis Masjid Sabilillah Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Abdul Adzim