Melihat Sisi Lain Suporter Indonesia di Kuala Lumpur | Malang Post

Minggu, 08 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Rabu, 20 Nov 2019, dibaca : 144 , Redaksi, Bagus

SEJUMLAH tempat nongkrong di Kuala Lumpur dipenuhi suporter Timnas Indonesia.  Selain beri dukungan tim kebanggaan  saat melawan Timnas Malaysia, Selasa (19/11) tadi malam di laga Kualifikasi Piala Dunia 2020 Kuala Lumpur, suporter mengisi waktu berwisata. Pusat kuliner di Jalan Alor, kawasan Bukit Bintang merupakan salah satu tempat nongkrong yang ramai dikunjungi warga negara Indonesia  (WNI).
============
TAK terkecuali Malang Post yang juga memilih tempat itu untuk memanjakan perut. Dari ratusan meter tempat makan di Jalan Alor, warga Indonesia memilih berhenti di Kedai Ros Tom Yam. Rasanya hanya di tempat itu yang menjadi jaminan makanan halal. Selain ada tulisan halal food, Kedai Ros ini penjualnya juga orang Indonesia.
Kedai Kak Ros sangat mudah dijangkau dari kawasan Bukit Bintang. Jika Anda berjalan di kawasan Street Musician, maka nanti akan bertemu dengan Federal Hotel. Nah, di depan hotel tersebut ada satu gang yang bisa langsung tembus ke Jalan Alor. Di tembusan gang tersebut, Kedai Kak Ros bisa langsung dijumpai.
Pemiliknya memang orang Malaysia bernama Ros, sudah sepuh. Namun semua pekerjanya adalah orang Indonesia. Satu keluarga dari Cilacap. Ada empat kakak beradik yang bekerja di tempat Ros tersebut. Paling tua Rosiah (41 tahun), lalu ada adik keduanya Ratnawati. Sedangkan adik ketiga dan keempat bertugas membakar ayam dan masakan lainnya.
“Ada adik saya juga jualan di Alor ini, sana di sisi timur, jualan durian,” ujar Ratnawati kepada Malang Post.
Kata dia, Jalan Alor ini adalah jujugan orang Indonesia. Keuntungan terbesar dari para pedagang berasal dari kunjungan orang Indonesia. Yang muslim biasanya datang ke tempatnya. Karena jika melihat tampilan yang datang memang berjilbab dan bisa Bahasa Indonesia.
“Di Jalan Alor sini memang kebanyakan makanan laut dan dengan tulisan China, jadi kalau orang Indonesia yang mau makanan halal biasanya ke kami,” imbuh Ratnawati dalam Bahasa Jawa Cilacapan.
Bukan berarti makanan lainnya tidak halal, namun menurut dia orang Indonesia yang makan di tempatnya karena memlih aman saja. Bahkan, sejumlah artis juga pernah makan di tempat bekerjanya itu. “Luna Maya pernah makan di sini, lalu ada Baim Wong,” imbuhnya.
Ia dan keluarganya, dulu bekerja juga di kawasan Cheras. Di situ adalah business center, mereka bekerja di kedai India makanan Mamak. Kini di Jalan Alor mereka sudah tiga tahun dan sepertinya kerasan di sini. “Karena pendapatannya lebih besar di sini, lebih ramai,” imbuh dia.
Malang Post makan di sana dengan porsi besar nasi lemak plus kerupuk, udang bumbu merah dan es jeruk membayar 19 ringgit,  sekitar Rp 64 ribu per orang. Itu porsi jumbo dan sangat mengeyangkan. Dari angka itu, bisa dilihat keuntungan bos Ratnawati. “Ya besar untungnya, karena ramai sekali, malah minim hitungannya sepi,” akunya.
Keuntungan bersih bosnya, kata Ratnawati jika dihitung bisa rentang 1.000 RM sampai dengan 1.700  RM per hari. Yakni rentang Rp 3.400.000 – Rp 5.780.00, paling sepi 900 RM, jika dirupiahkan Rp 3.060.000. Hitungan itu memakai kurs 1 ringgit Malaysia Rp 3.400.
“Bos kami ini semacam mendapat surat izin untuk berdagang di sini, bayarnya per tahun, kalau yang lain ada yang bayar per bulan dengan nilai ribuan ringgit lah,” jelasnya.
Kawasan Alor hidup selama 24 jam, sehingga Ratnawati dan kakak-kakaknya bekerja system shift. Pekerja penggantinya adalah kelompok dari Indonesia pula, tepatnya dari Tuban.
“Di sini digaji per hari, masak 90 RM, jual 60 RM. Belanja mudah tinggal telepon dan SMS saja, barang datang,” imbuhnya.
Rosiah menambahkan, bahwa Alor sangat tergantung kepada orang Indonesia. Menurutnya orang Indonesia itu kaya-kaya, karena mereka mendominasi kawasan Alor. Jika tidak ada orang Indonesia, tempat itu sepi.
“Tapi sebaliknya, orang Malaysia liburnya ke Indonesia, seperti pemilik rumah makan di depan kedai ini, mereka liburan seminggu ke Bali,” pungkasnya sembari tersenyum.(Bagus Ary Wicaksono)



Kamis, 05 Des 2019

Kelola Dua Bisnis di Kepanjen

Loading...