MalangPost - Bercinta di Bulan Ramadan

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :

Bercinta di Bulan Ramadan

Kamis, 14 Mei 2020, Dibaca : 4635 Kali

Puasa begitu dekat di hati mengalir membasahi seluruh tubuh, membuatnya berbunga-bunga ibadah, menghembuskan angin sorga, selaksa air mengalir deras menembus waduk-waduk, ia lebih terasa dekat bukan karena tidak ada suap makanan yang masuk dalam usus, bukan pula karena air yang tidak mengalir ketenggorokan, tapi karena ia memberikan kekuatan untuk mendekat, mendekat pada maha yang Maha mendekat.
Puasa adalah kekuatan, tapi tubuh-tubuh teler, mengeler, meronggok di kasur-kasur, kadang Subuh pun ia tak lagi dapat mendongakkan kepala untuk mengaji, ia hanya mengosongkan perut dan tenggorokan, tapi aliran ayat-ayat tak pernah merasuk nusuk membasahi hati yang begitu kering, ia semakin kering dan mengeringkan hatinya dengan mulut yang tidak bisa diam dengan ghibah, namimah,dan fitnah. Mata bersinar, tapi kadang terbalalak jika melihat aurat-aurat yang terbuka lebar, ia pun tak mampu berkedip, menusuk ke matanya pada keindahan tubuh yang semakin tumbuh, telinga pun tertutup rapat mendengarkan wasiat-wasiat takwa, meskipun perut kerontak bertapa.
Puasa adalah keindahan, tapi kadang keindahan lenyap, oleh kebohongan-kebohongan yang semakin merayap, lapar tak mampu membedung, karena hati sudah terlalu penuh oleh rajutan-rajutan dosa, yang tak ada usaha untuk menghilangkannya untuk menuju takwa, ia semakin gila menemui budak-budak nafsu berhala, berhalauang, berhala manusia dan berhala-hala lain yang semakin tidak merasa begitu dekat dengan manusia.
Ramadan saatnya bercinta yang sesungguhnya dengan mahaPecinta, ia akan begitu dekat dengan para mukmin, jika mukmin semakin gila berlari ada-Nya, lapar ia suguhkan sebagai sebuah pengorbanan, haus ia jalani demi sebuah ibadah, hari-harinya terikat buan karena kekangan, ia dijerat oleh aturan demi sebuah kebaikan, ternyata benar, puasa semakin membuat dirinya semakin menemukan kebahagiaan yang tiada tara, puasa bukan untuk Tuhan, tapi demi sebuah kebaikan dirinya dan orang lain, Tuhan tetap besar walau manusia-manusiatak berpuasa, kerena ia maha Besar dan Kuasa.
Ramadan hari-hari bercinta denga-Nya, menemuinya dalam salat, berdendang dengan ayat-ayat, bersedih atas nama kemanusiaan melihat sebuah keperihatinan diri dari kemiskinan. Mata, hati, pikiran dan seluruh gerak tubuh hanya menemui-Nya, puasa adalah saatnya menemuinya dan membersihkan hati, pikiran dan tubuh untuk menemukan sorga-Nya. waantashumu khairal lakum, inkuntum ta'lamun. (*)

Oleh : Ustadz Halimi Zuhdy
Pengasuh Popes Darun Nun dan Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Maliki Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Halimi Zuhdy