MalangPost - Azab Besar yang Tak Tampak

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :


Azab Besar yang Tak Tampak

Selasa, 12 Mei 2020, Dibaca : 4305 Kali

Mari Kita ke Surga Dunia Dulu, Sebelum ke Surga Akhirat
Surga, idaman semua orang, semua agama, semua ajaran, semua kepercayaan. Bahkan orang yang melakukan kemungkaran, kekejian, kerusakan juga mengharapkan berada di surga. Surga dalam pandangan mereka berbeda-beda, sesuai dengan nalar dan kepercayaan mereka. Tidak hanya orang dewasa yang mengharapkan surga, anak kecil pun yang belum tahu dosa dan pahala, juga menginginkan surga. Dan dalam pandangan mereka surga hanyalah satu keyakinan, yaitu tempat yang indah, semua serba ada, dan semua kebetuhan terpenuhi.
Orang yang bosan terhadap proses menuju surga yang sebenarnya, terkadang membuat surga-surga dalam pikiran dan prilaku mereka, dengan melakukan perzinahan, menegak minuman yang memabukkan, ekstasi, dan mengumbar segala kekayaannya, kemewahannya dan kesombongannya. Mereka melakukan dua hal demi kepuasan surga dunia mereka, dengan (fisik) harta, tahta, wanita/laki-laki, keturunan dan (non fisik) pujian, kesombongan, dan lain sebagainya.
Surga yang dijanjikan oleh Allah (bagi umat Islam) adalah tempat yang aman, nyaman, kekal (ad-Dukhan : 51-57), semuanya hidup rukun, tidak ada; pertengkaran, perselisihan, pertentangan, (al-Hijr : 45-48). Hidup dengan segala keindahan, kemewahan, dan segala perhiasan (al-Kahfi : 30-31). Memperoleh rizki yang tidak pernah ada habis-habisanya, disediakan minuman, buah-buahan, daging dsb, dan tidak pernah merasakan kenyang atau pusing dan mabuk setelah memakan atau meminumnya. Disediakan pelayan dan ditemani oleh bidadari yang cantik dan sebaya umurnya (Shad : 49-54) dan (al-Waqi’ah : 13-38).
Tidak pernah kesulitan dalam kehidupan di surga, tidak ada buah yang busuk. Semuanya diliputi dengan kemudahan, dan apapun yang diinginkan pasti terpenuhi. (Ar-Rahman: 68).Serta semuanya tampan dan cantik, selalu muda, memiliki kulit yang mulus dengan pakaian yang tak pernah kumal.Tidak pernah sakit, menderita atau mati (HR.Muslim). dan kesenangan yang lainnya, wanitanya yang cantik-cantik, dan laki-lakinya tampan-tampan, terdapat sungai-sungai yang mengalirkan susu, madu bahkan arak dan tidak memabukkan. dan selalu menebar senyuman. dan masih banyak gambaran-gambaran bagaimana kehidupan ahli surga. yang pada intinya, adalah kehidupan yang indah.
Menurut pandangan saya, selain keindahan surga yang Allah janjikan di atas (dan itu nanti setelah yaum hisab), maka kita akan selalu menemukan dan merasakan surga yang berada di dunia, dengan melakukan beberapa hal yang dilakukan oleh penduduk surga. Karena kebaikan, keindahan, kebahagiaan, dan kenikmatan tidak pernah dilarang oleh Allah di dunia sebagaimana doa yang selalu kita harapkan, Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201).
Ibnu Kasir memberi makna “Hasanah fi Dunya”dengan segala keinginan dan kebutuhan dunia seperti kesehatan, tempat yang nyaman, pasangan yang baik, rizki yang banyak (wasi’), ilmu yang bermanfaat, dan perbuatan yang baik. Kenikmatan, kenyaman, kebahagiaan yang tidak dilarang oleh Allah adalah yang tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah, sedangkan kebahagiaan, kenyamanan, dan kenikmatan yang dirasakan indah tetapi bertentangan dengan ajaran Islam adalah kenikmatan semu belaka, menipu, dan pada akhirnya hanyalah fatamorgana, tidak akan menemukan kekekalannya.
Seperti orang yang mencari ketenangan dan kedamaian, ia mencarinya di dalam harta, tahta, wanita/laki-laki, dan lainnya setelah ia menemukannya dan merasakannya, maka ketenangannya akan sirna pula. Tetapi berbeda dengan ketenangan yang Allah berikan, yaitu hanya dengan mengingatNya, "..Orang-orang yg beriman dan hati mereka menjadi tenteram (tahmainnu) dengan mengingati Allah, Ingatlah..hanya dengan mengingati Allah hati akan menjadi tenang (tahmainnu)...(Ar-Ra'd:28).
Di sini ada pengulangan kata “tahmainnu” dua kali dengan menggunakan fiil Mudhari’ (kata kerja sedang atau akan) yang memiliki arti “selalu” (liddawam). Serta menggunakan taukit (penguat/pengokohan). Artinya akan selalu merasa tenang (damai, tentram), jika seseorang mengingat Allah. Kedamaian, kebahagiaan, keindahan akan selalu menghiasinya jika ia selalu mengingat Sang Pencipta, Sang Tempat Kembali, Sang pemberi Rizqi dan Yang mengambilnya. Maka, ia akan merasakan surga di dunia, jika selalu mengingat “dari” dan “ke” mana pada akhirnya. (bersambung)

Oleh : Ustadz Halimi Zuhdy
Pengasuh Popes Darun Nun dan Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Maliki Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Halimi Zuhdy