MalangPost - Anak-anak Rentan Jadi Pelaku Pelecehan Seksual

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Anak-anak Rentan Jadi Pelaku Pelecehan Seksual

Jumat, 10 Jul 2020, Dibaca : 2526 Kali

DATA Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang menunjukkan, 30-40 persen pelaku pelecehan seksual, justru dilakukan anak-anak. Kelompok usia itu, dianggap rentan melakukan sexual harassment.

Kondisi itu bisa saja terjadi, karena pelakunya membutuhkan pengakuan dari lingkungan. Termasuk dari keluarga, untuk mencari perhatian. Fakta itu memang memiriskan dan terjadi di Kota Malang.

‘’Kalau dilihat dari latar belakangnya, memang seperti itu. Pelaku pelecehan seksual ini remaja atau anak-anak. Mereka punya rasa ingin tahu yang besar. Akhirnya memanfaatkan media sosial dengan keterbukaan informasi untuk menyalurkan rasa,’’ ujar Dr Cahyaning Suryaningrum Msi, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, dalam talkshow Idjen Talk di City Guide FM, yang juga disiarkan langsung ameg.tv.

Jika pelakunya orang dewasa, lanjut dia, disebabkan kurang adanya perhatian, sejak dia masih kecil. Atau sedang mengalami krisis harga diri. Insecure. Akhirnya melakukan tindak asusila ke orang orang yang dianggap lebih lemah.

‘’Korban tindak sexual harassment, mayoritas berjenis kelamin perempuan atau anak anak. Mereka dianggap lemah oleh pelaku,’’ imbuh dosen ini.

Sedangkan Kasi Perlindungan Anak Dinsos P3AP2KB Kota Malang, Sri Puji Astuti bilang, di Kota Malang, anak-anak justru rentan menjadi pelaku sexual harrasment atau pelecehan seksual.

‘’Data kami menyebut, sekitar 30-40 persen pelakunya anak-anak. Itu benar-benar diluar perkiraan kami. Baik itu di dunia nyata, maupun di dunia maya. Sementara korban yang melapor, pasti kami jaga kerahasiaan data dan dijaga keamanannya,’’ tandas Eny, panggilan akrabnya.

Ditambahkan, Muhammad Ali Fauzi S.Kom., M.Kom, dosen Filkom Universitas Brawijaya, secara garis besar, tindakan sexual harassment di dunia nyata dan dunia maya sama. Hanya saja, jika terjadi di media sosial, ada keterbukaan Informasi dan anonimosity.

‘’Artinya, siapapun bisa jadi apapun. Ini mendorong orang melakukan sexual harassment di media sosial. Mereka merasa identitasnya tidak diketahui,’’ imbuhnya.

Untuk mencegah pelecehan sosial itu terjadi, terutama di media sosial, kata Ali Fauzi, harus ada kontrol yang ketat, saat anak-anak atau remaja bermain di media sosial.

‘’Termasuk dengan membuat kecerdasan buatan. Bagaimana ada koneksi yang dikontrol di medsos. Jadi saat ada indikasi percakapan di luar batas wajar, langsung ditindaklanjuti oleh platform penyedia,’’ katanya.

Masyarakat, tambahnya, juga bisa menggunakan perkembangan teknologi, dengan memanfaatkan aplikasi khusus, untuk memantau anggota keluarga. Mulai dari situs yang dikunjungi, sampai aplikasi yang diunduh. Agar terjadinya pelecehan sosial bisa dicegah.

Ditambahkan Kanit PPA Polres Malang Kota, Iptu Nawang SH., keluarga khususnya orang tua, bisa melakukan kontrol ketat soal pergaulan anak. Termasuk memantau siapa saja teman dekatnya.

‘’Jadi anak-anak tidak salah pergaulan dan justru menjadi korban atau pelaku pecelehan seksual. Tapi kalau sudah terjadi, tentunya akan ada penindakan terhadap pelaku. Sesuai hukum yang berlaku. Berat tidaknya hukuman, sesuai keputusan hakim,’’ demikian Iptu Nawang. (els)

Editor : Redaksi
Penulis : elsa